Cetak
Dilihat: 1140

Gabus -  Krisis air bersih maupun untuk keperluan pertanian kini mengancam warga.  Bahkan, untuk keperluan mandi, cuci, kakus, dan irigasi pertanian warga harus merogoh kantong lebih banyak lagi. Masyarakat dan petani di Desa Banjarsari Kecamatan Gabus, kini mulai mengeluhkan sulitnya mendapat air bersih, maupun air untuk pemenuhan irigasi pertaniannya.

Petani di salah satu pedukuhan desa setempat,  Sudirman mengaku, bersama petani lainnya dia belakangan ini harus menambah biaya perawatan tanaman padinya. Pasalnya, untuk pemenuhan air harus memompa dari Sungai Silugonggo, masih membutuhkan biaya banyak untuk membeli bahan bakar.
“Karena sudah sering terjadi hal semacam ini, sehingga petani mandiri dengan membeli pompa air sendiri. Dengan pengeluaran biaya yang cukup banyak lah,” tuturnya.
Kades Banjarsari Kecamatan Gabus, Edi Margiyono menjelaskan, krisis air bersih maupun untuk keperluan irigasi pertanian, terjadi sejak awal Agustus 2017 lalu. Sedang jadwal pembukaan pintu debit air pada September bulan depan. Sehingga langkah antisipasi awal, pihaknya memohon agar pembukaan pintu debit air dipercepat guna mengairi total lahan sawah seluas 97 hektar.
"Satu-satunya jalan yang kami sampaikan dan menjadi harapan adalah cadangan air dari waduk atau wilalung bisa digelontorkan lebih awal dari jadwal yang kemarin disepakati oleh petugas atau dinas yang berwenang, dalam pembukaan air atau cadangan air untuk irigasi. Karena sampai saat ini, jika sampai satu minggu lagi tidak
Kades Banjarsari, Edi Margiyono menambahkan, sulitnya air bersih akan berdampak buruk bagi warganya,  karena sanitasi yang terbatas berpotensi berjangkitnya penyakit.(•)

0
0
0
s2smodern
powered by social2s