Pati, Kota – Pemerintah berharap semua fasilitas pendidikan di seluruh jenjang, ramah dan berwawasan lingkungan bagi anak, serta menjadi sekolah adiwiyata. Untuk memacu terwujudnya harapan itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Pati menyelenggarakan workshop sekolah adiwiyata, yang berlangsung di gedung SKB,  Jumat (23/11/2018).

Hingga saat ini sekolah di Kabupaten Pati dari jenjang SD, SMP dan SMA, lima belas diantaranya menyandang sekolah adiwiyata. Kini, virus sekolah adiwiyata mulai menyebar di 120 sekolah lainnya. Dan sebelum bergabung dengan program ini, dan meningkatkan status penghargaan sekolah-sekolah tersebut, terlebih dulu mengikuti workshop sekolah adiwiyata yang diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud).
Di sela-sela workshop, narasumber dari Tim Adiwiyata Kabupaten Pati Widiarso kepada PAS Pati mengatakan,  untuk 2018 ini, sekolah di Pati yang mendapat penghargaan sekolah adiwiyata nasional ada tiga sekolah.  Yakni, SMPN 1 Batangan, SMPN 5 Pati, dan SMPN 1 Wedarijaksa. Sementara sekolah yang mendapatkan penghargaan adiwiyata tingkat kabupaten dan provinsi sudah mencapai puluhan. Serta SMK Tunas Harapan Pati menjadi satu-satunya sekolah dengan status sekolah adiwiyata mandiri.
“Dalam workshop ini ada dua kelompok untuk SD. Yakni kelompok sekolah-sekolah dasar yang mau mengikuti program sekolah adiwiyata, sekitar 40 sekolah. Dan delapan puluh sekolah lainnya, yang hendak meningkatkan penghargaan adiwiyata kabupaten ke provinsi, dan dari provinsi menuju ke penghargaan adiwiyata nasional serta yang nasional mau ke mandiri,” katanya.
Sekretaris Disdikbud Kabupaten Pati Saryono mengatakan, penyelenggaraan workshop sekolah adiwiyata itu, untuk menjadikan sekolah-sekolah di Pati menjadi sekolah yang rindang, teduh, dan bersih, lengkap dengan menejemen pengelolaan sampahnya. “Pelatihan ini diharapkan nanti, guru-guru ini memahami apa itu sekolah adiwiyata. Jadi sekolah adiwiayata itu sekolah yang adi yang indah itu, rindang, teduh, hijau, sehingga anak-anak itu nyaman, tidak terganggu. Kemudian ada pemilihan sampah organik dan anorganik. Sehingga bisa mengurangi sampah, karena sampah ini menjadi beban kita semua. Dan yang terpenting, guru-guru memberikan pembelajaran kepada anak didiknya tentang pendidikan lingkungan hidup. Sehingga mereka senang menanam, senang merawat, tidak senang menebang,” ungkap Sekretaris Disdikbud Pati Saryono.
Disdikbud Kabupaten Pati menghadirkan narasumber pada workshop sekolah adiwiyata, Sisilia dari SDN Dengkek, Sofia Bardiana dari SMPN 5 Pati, dan Jiman dari SDN Ngarus.(•)

0
0
0
s2smodern
Joomla templates by a4joomla