Kopdar Aswaja Diskusikan Membaca Arah Radikalisme di Bumi Nusantara

101fm, Pati Kota – Pengurus Cabang Nahdlatur Ulama (PCNU) Kabupaten Pati bersama Polres Pati menggelar kopi darat (Kopdar) Aswaja dan Diskusi, Minggu kemarin (28/7/2019). Kegiatan dengan agenda bahasan ‘Membaca Arah Radikalisme di Bumi Nusantara’ tersebut berlangsung di Rumah Joglo Quran Ponpes Al-Manaj turut Desa Semampir Kecamatan Pati.
Diskusi dengan bahasan pokok ‘Membaca Arah Radikalisme di Bumi Nusantara’ itu melibatkan Ketua Tanfidziyah PCNU Pati Kyai Yusuf Hasyim SAg MSi dan Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto SIK.

Menurut Ketua Tanfidziyah PCNU Pati Kyai Yusuf Hasyim SAg MSi penyelenggaraan diskusi tersebut sebagai bentuk dukungan NU terhadap tugas berat aparat keamanan untuk mencegah radikalisme dan terorisme. “Potensi radikalisme dari bibit-bibit yang ditanam oleh kelompok radikal sejak era 90an sampai sekarang sudah banyak yang matang dan siap beraksi dalam berbagai bentuk. Sekalipun kelompok mereka sangat kecil dalam proporsi jumlah penduduk Indonesia, tapi tindakannya bisa menyebabkan keresahan masyarakat. Kinilah saatnya kita berpikir secara serius upaya penanganan penanaman ajaran radikal di kalangan generasi muda,” kata Ketua Tanfidziyah PC NU Pati.
Menurut Kyai Yusuf Hasyim, pembinaan Islam di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) mungkin lebih mudah dilakukan oleh guru agama atau pihak sekolah. Organisasi-organisasi Islam juga harus didorong untuk lebih aktif dalam mencegah sel sel radikalisme.
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor M Nuruzzaman dalam sambutannya mengatakan, grafik gejala radikalisme mengalami kenaikkan di decade lima tahun terakhi ini. “Level radikalisme di masyarakat mencapai 36%,” ujarnya
Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor M Nuruzzaman mengatakan, hasil riset 35% mahasiswa di Indonesia terpapar radiklisme, sedangkan untuk pelajar terpapar 25 %, dikalangan internal guru PAI bahwa 6 dari 10 guru terpapar radikalisme,” katanya.
Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto SIK menyampaikan terima kasih kepada NU beserta badan-badan otonomnya di Kabupaten Pati yang ikut aktif menangkal radikalisme yang disinyalir juga sudah menjalar hingga di tubuh Polri maupun TNI. Untuk itu, Densus 88 saat ini sudah ditempatkan di masing masing Polda untuk memonitor perherakan radikalisme maupun terorisme. “Definisi Radikalisme merupakan Gerakan melakukam perubahan cepat dengan jalan kekerasan, mempunyai anggapan paling benar dalam beragama dan bertindak dengan kekerasan maupun dengam cara memaksa. Ciri radikalisme tidak intoleran, tidak mengakui Pemerintahan yang syah, menganggap paling benar sendiri, dan menganggap aparat keamanan adalah Thogut/pasukan kafir, revolusioner dan cenderung melakukan kekerasan,” katanya.
Sasaran terorisme, kata Kapolres Pati mengubah tatanan pemerintahan, mengancam elit politik dengan tujuan memasukkan ideologi teroris di pemerintahan. Seperti halnya Jamaah Islamiyah yang berdiri 1991 dan bergerak pada tahun 1993, telah melakukan pengeboman di padang bulan, menginjak tahun 2000 ada aksi peledakan bom di beberapa gereja. Radikalisme muncul dari beberapa sebab, mulai pecahnya darul Islam maupun fenomena global. “Peristiwa bom bali merupakan kejadian teror terbesar kedua di dunia. Polri telah melakukan penangkapan sekitar empat ratus pelaku teroris, dan kini aksi radikalisme mulai meredup,” katanya.
Kapolres Pati AKBP Jon Wesly Arianto mengatakan, semua elemen bangsa berupaya mencegah radikalisme dengan melakukan pemutusan jaringan terorisme, melakukan upaya hukum terhadap pelaku terorisme, dan kontra radikalisme salah satunya membangkitkan kembali kegiatan keagamaan untuk mencegah paham-paham radikal.(pas-gus).

0
0
0
s2sdefault
Joomla templates by a4joomla