Penyumbang Hoaks Bukan Dari Media Mainstream

101fm, Pati Kota – Media mainstream (arus utama) tidak mungkin menyiarkan atau menyebarkan berita bohong (hoaks). Menanggapi berita hoaks yang banyak tersebar di media sosial, masyarakat harus berhati-hati dan waspada, minimal mengetahui dari media mainstream yang sudah terverifikasi.
Berita-berita media sosial kebanyakan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Berbeda halnya dengan berita-berita dari media mainstream yang dalam penyiaran dan penyebarannya dapat dipertanggungjawabkan.

“Saya kira yang memproduksi atau yang menyumbang hoaks terbesar itu bukan dari media mainstream seperti halnya televisi yang merupakan media yang terverifikasi Dewan Pers, dan media-media yang legal. Karena ada penanggung jawabnya, kemudian ada audio, visual yang bisa dipertanggungjawabkan,” demikian Ketua IJTI Jawa Tengah Teguh Hadi Prayitno saat diwawancara di acara Kopi Pagi PAS Pati.
Pada kesempatan wawancara itu, Teguh Hadi Prayitno juga berharap masyarakat berhati-hati dan waspada dalam menanggapi berita hoaks (bohong) yang banyak bertebaran di media sosial. Minimal, masyarakat dapat mengetahui sebuah berita itu dari media mainstream atau bukan. “Kalau itu berasal dari media mainstream pemberitaanya, kesempatan atau potensi untuk melihat potensi pemberitaan itu obyektif jauh lebih besar ketimbang itu produksi dari medsos. Untuk melihatnya itu gampang semisal di WA itu dari media mainstream atau bukan. Kalau itu dari medsos kita harus cerdas untuk tidak menyebarkan berita itu,” katanya.
Ketua IJTI Jawa Tengah Teguh Hadi Prayitno mencontohkan, konflik Papua yang terjadi saat ini, karena disulut dari berita hoaks. Untuk itu masyarakat diminta memahami, mengerti dan tidak menyebarkan hoaks (berita bohong) yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan.(pas-gus)

0
0
0
s2sdefault
Joomla templates by a4joomla