Launching Kitab Anwarul Bashair Karya Kiai Sahal Bersamaan Wisuda Perdana Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda

101fm, Pati Margoyoso - Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda Fi Ushul Fiqh Kajen-Margoyoso-Pati-Jawa Tengah mewisuda Sarjana Perdana kepada 38 Santri Program Studi Fiqh Ushul Fiqh (al-Fiqhu wa ushuluhu). Dari total 38 wisudawan itu terdiri dari 18 santri putra dan 20 santri putri.
Pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) KH. Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin) mengatakan, Ma’had Aly Maslakul Huda Fi Ushul Al-Fiqh ini mempersiapkan para santri yang bisa memahami lebih dalam dan banyak ketimbang lulusan aliyah, sekaligus membuat sintesa antara nushus yang dipelajari dengan hal-hal yang bersifat waqi’iyyah atau empiris.
“Karena selama ini kita seakan-akan terlihat ada jarak antara nash yang kita pelajari dengan realitas yanga da di masyarakat,” tutur Guz Rozin.

Gus Rozin berharap para lulusan ma’had aly ini menjadi bagian dari problem solver atas problematika masyarakat berdasarkan kutubut turats yang telah mereka pelajari. Selain sebagai problem solver, para lulusan juga didorong untuk mengkampanyekan Islam Rahmatan lil ‘alamin, sikap tawazun, tasammuh, tawassuth, ta’addul dsb dengan cara misalnya memperbanyak santri-santri yang memahami secara mendalam kutubut turats.
Mengutip pernyataan Gus Baha’, Gus Rozin menyampaikan bahwa tidak mungkin generasi saat ini mempelajari teks langsung dari sumbernya (Al-Qur’an dan Hadits). Hal tersebut dikarenakan antara yang wasail (perantara) dari sumber sampai sekarang terdapat jarak yang sangat panjang.
“Nah, psosisi kita adalah memperbanyak wasail-wasail ini sehingga makin banyak masyarakat yang bisa mendapatkan inside, mendapatkan pandangan, pendapat-pendapat yang lebih moderat yang berasal dari pemikiran yang mendalam,” tutur Guz Rozin.
Gus Rozin juga berharap agar para lulusan merasa puas dengan apa yang mereka dapatkan saat ini. Ia menghimbau agar para lulusan tetap berproses ke jenjang lebih tinggi atau mengabdi kepada masyarakat.
“Tidak boleh berhenti, harus terus berproses. Berproses itu bisa belajar lagi, berproses itu bisa langsung mengabdi atau terjun ke masyarakat,” pungkas Gus Rozin.

Momen Pindah Kuncir diganti dengan pemberian sanad
Secara simbolis, pelaksanaan prosesi wisuda ma’had aly ini berbeda dengan perguruan tinggi lainnya. Prosesi wisuda Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda ditandai dengan pemberian sanad, ijazah dan kitab oleh KH. Abdul Ghofarrozin kepada peserta wisuda dan penyerahan syahadah kelulusan.
“Prosesi wisuda di Ma’had Aly ini lebih dititik tekankan pada menyambung sanad antara yang diterima anak-anak itu dengan kitab-kitab yang bisa dipelajari dengan sanad yanga ada di atasnya,” ungkap Gus Rozin.
Menurut Gus Rozin, pemberian sanad tersebut merupakan salah satu keunggulan pesantren yang tidak dimiliki oleh komunitas pendidikan lainnya. Maka kemudian sanad tersebut menjadi titik penting sebagai simbol dari lulusnya Wisudawan Ma’had Aly Maslakul Huda.
Mudir atau Direktur Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda Wakhrodi mengatakan kelebihan Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda terletak pada transfer ilmu dan riwayat (dirasatan wa riwayatan). Dari sini jelas bahwa dari segi sandaran keilmuannya pesantren memiliki kejelasan riwayatnya.
Wakhrodi menambahkan, input Ma’had Aly trelebih dahulu harus mampu membaca Kitab Kuning. Yakni dengan membaca kitab sekelas Fathul Qorib hingga Fathul Mu’in saat tes pertama masuk ma’had aly.
“Sebagai santri yang belajar fiqh Ushul Fiqh, mereka belajar dari sumber-sumber primer atau otoritatif semacam Ghayatul Wushul, Thariqatul Wushul. Dalam mempelajari Fiqh mereka belajar Bidayatul Mujtahid, Kifayatul AKhyar, bukan dari sumber sekunder seperti terjemahan yang dipelajari di kampus-kampus pada umumnya,” ungkap Wakhrodi.
Wakhrodi menambahkan, kekuatan lulusan ma’had aly ini adalah para lulusan berangkat dari sumber pengetahuan primer yang dalam hal ini adalah turats (kitab kuning).
“Sehingga pemahaman mereka lebih detail, kata per kata, tidak sebagaimana kalangan yang mempelajari ilmu agama secara globalnya saja,” tutur Wakhrodi.

Review dan Launching Kitab Anwarul Bashair Karya Kiai Sahal
Selain pelaksanaan wisuda, dalam kegiatan tersebut juga disematkan acara review dan launching Kitab Anwarul Bashair karya KH. MA. Sahal Mahfudh oleh KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’) yang merupakan Pengasuh PP LP3IA Al-Qur’an Narukan-Rembang.
Kitab yang merupakan ta’liqat (catatan) Kiai Sahal atas Kitab al-Asybah wa an-Nadhair karangan Syekh Imam Jalaluddin as-Suyuthi tersebut akan direview oleh Gus Baha’.
Menurut penuturan Gus Rozin, ta’liqat tersebut ditulis Kiai Sahal semenjak menjadi santrinya Mbah Zubair Rembang, namun belum sempat terbukukan.
“Mungkin ini satu-satunya ta’liqatnya Kiai Sahal yang belum dilaunching dan belum pernah beredar. Ini adalah taqdim atau launching sekaligus itu menajdi orasi akademiknya wisuda perdana ini,” tutur Guz Rozin.
Dalam Reviewnya, Gus Baha’ mengisahkan bahwa Kiai Sahal banyak beristifadah kepada Mbah Zubai dalam berbagai kitab. Oleh Gus Baha’ diceritakan, Kiai Sahal merupakan santri yang rajin, baik ketika, setelah ataupun henda mengaji dengan Mbah Zubair selalu mempelajari dan mempersiapkan terlebih dahulu.
Dari situlah menurut Gus Baha’ kemudian muncul hal-hal yang penting untuk dijadikan sebagai ta’liqat atau catatan oleh Kiai Sahal. “Baik catatan itu bisa berupa komentarnya Mbah Zubair, atau dari pemikirannya Kiai Sahal sendiri atau berdasarkan penulusuran sebelum atau sesudah Mbah Sahal ngaji dnegan Mbah Zubair,” tutur Gus Baha’.

Legalitas Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda
Secara legalitas Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda setara dengan lembaga perguruan tinggi lainnya. Hal ini sebagaimana PMA. No. 71 Tahun 2015 tentang Ma’had Aly.
Secara kelembagaan, Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda bergerak dalam bidang Ruh Pendidikan Islam, ia bukan reinkarnasi IAIN, STAI, ataupun UIN, berorientasi pada kompetensi keulamaan/tafaqquh fi addin (bukan ijazah), membangun sistem pendidikan baru (kembali pada model pendidikan yang ginuine), masa depan Islam dan negara, dan lahir dari tradisi yang sangat kuat (pesantren).
Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda secara de facto sudah berdiri sejak 2012 dalam wujud Tahassus Ushul Fiqh. Kemudian setelah ada regulasi PMA 71 Tahun 2015, tahassus itu bertransformasi menjadi Ma’had Aly. Artinya yang tadinya tahassus itu non-formal kemudian Ma’had Aly menjadi formal. Secara gelar kesarjanaan santri Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda setara dengan Strata 1 di perguruan tinggi dengan gelar S.Ag.

Gegara Corona, pelaksanaan Wisuda Perdana Digalar Secara Internal
Pengasuh Pesantren Maslakul Huda Abdul Ghofarrozin mengatakan, pelaksanaan kegiatan wisuda perdana tersebut dilaksanakan secara internal dengan menghadirkan orangtua wali wisudawan dan beberapa tamu undangan secara terbatas. Hal tersebut mengingat saat ini masyarakat berada pada posisi siaga terhadap kondisi merebaknya wabah Covid-19. Akhirnya diputuskan untuk meringkas acara dari dua bagian menjadi satu yang berisi dua bagian.
“Awalnya acara ini sanad internal pagi hari hingga siang, yang kedua seremonial siang sampai sore, karena melibatkan banyak orang. Tapi karena melihat situasi yang smeacam ini (wabah Covid-19) di masyarakat, wali murid dan santri-santri kita, maka dicari jalan tengah. Sebetulnya acara ini sudah direncanakan sejak lama dan sudah ditunggu-tunggu sudah beberapa kali ditunda pula, maka untuk dibatalkan 100% akan mengorbankan harapan anak-anak. Maka dicarilah jalan tengah dengan meringkas hanya substansinya saja. Seremonialnya hampir tidak ada,” tutur Gus Rozin.
rangkaian acara wisuda berlangsung mulai pukul 07.00 WIB diawali dengan pembacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani, pemberian sanad serta ijazah dan musalsal bit-Talqim oleh pengasuh Pesantren Maslakul Huda (PMH) KH. Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin) beserta Ibu Nyai Hj. Tutiki Nurul Jannah, serta Kajian dan Taqdim (Review dan Launching) Kitab Anwarul Bashair karya KH. MA. Sahal Mahfudh oleh KH. Bahauddin Nur Salim (Gus Baha’).(pas-gus)

0
0
0
s2sdefault
Joomla templates by a4joomla