Cetak
Dilihat: 890

Kayen – Menghadapi musim kemarau yang berdampak terhadap tingkat produksi panen, Pemerintah diminta untuk meminimalkan peluang impor bahan pangan. Sebaliknya pemerintah lebih konsentrasi mengawasi dan mengupayakan lahan pertanian yang masih produktif untuk tetap bisa memanen.Kekeringan yang melanda sebagian wilayah di Indonesia, tidak membuat pemerintah latah menyampaikan pernyataannya yang menyebut  produksi pangan turun, akibat banyak tanaman pangan puso ke media.

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Firman Soebagyo berharap, pemerintah lebih realistis dalam menghadapi kekeringan yang terjadi di sejumlah daerah, yang berdampak menurunnya produksi tanaman pangan, terutama beras.
“Untuk kekeringan kami sudah mengingatkan Menteri Pertanian. Untuk mengantisipasi kekeringan ini, nantinya akan menjadi latah dan banyak tanaman pangan puso, sehingga ini menjadi celah para pedagang untuk melakukan import, ini tidak boleh,” katanya.
Firman Soebagyo meminta Pemerintah Pusat untuk mengawasi lahan-lahan pertanian teknis yang masih subur, sesuai UU No.41/1994 tentang perlindungan tanaman pangan. Yang mana didalamnya menyebutkan perlindungan lahan pertanian berkelanjutan itu harus tetap dijaga.
“Oleh karena itu saya sudah minta kepada Satgas Pangan Irjen Setyo dan Menteri Pertanian, agar kita jangan hanya mampu mencetak sawah saja. Tapi mengamankan sawah yang sudah ada sekarang ini dulu. Jangan mengkonversi untuk lahan industri. Meski industri bukan suatu hal yang mustahil. Tapi, industri tersebut harus disiapkan jangan di lahan pertanian yang produktif,” katanya.
Anggota DPR RI Firman Soebagyo mengatakan, dalam hal swasembada dan ketahanan pangan nasional, khususnya di Kabupaten Pati masih terjamin dan terjaga. Bahkan Kabupaten Pati mampu berkontribusi sekitar 13% untuk stok ketahanan pangan nasional.(•)

0
0
0
s2sdefault
powered by social2s