“Ki Mbilung” Si Dhalang Cilik dari Pati

101fm, Pati Kota - Terik rembulan malam membuka tirai rindu-rinduku pada indahnya atap bumi. Cerita hari yang telah tergulung bersama senja sore begitu menarik untuk ku pilah agar tersimpan di sudut ruang memori bernama kenang. Hari ini cukup melelahkan. Tapi malam enggan melepaskan dekapnya padakuagar aku juga bisa mendekapnya kali ini. Aku putuskan untuk menikmatinya. Untuk menambah coretan cerita malam ini aku mengiyakan tawaran temanku yang cukup menggiurkan. Menonton wayang. Ya! Mungkin terdengar hal yang membosankan tetapi ada beberapa hal yang membuatku merasa tertarik untuk menonton.
Dari temanku yang entah dia tahu dari mana. Pertunjukan wayang bertajuk “Pagelaran Ringgit Purwa” ini biasa dilaksanakan pada malam minggu kliwon. Bertempat di salah satu daerah di Kabupaten Pati. Berasal dari Sanggar Shihing Kridha Murti tim pewayangan akan menunjukkan kebolehan mereka. Informasi menarik yang aku dapat dari temanku adalah malam ini dhalang yang akan mempertunjukkan kemampuannya adalah seorang remaja. Umurnya terpaut beberapa tahun dibawahku. Diusianya yang masih muda ku dengar dia sudah cukup mahir menjadi seorang dhalang.

Aku menempuh perjalanan yang cukup panjang. Angin malam membelaiku dengan mesra yang disusupi hawa dingin. Hampir sekitar satu jam aku membelah jalanan kota dari rumah ke tempat tujuan. Cukup jauh, namun aku merasa itu bukan hal yang berat. Aku yakin semua akan terbayar di pertunjukkan nanti. Sepanjang perjalanan aku tak hanya diam menikmati remang-remang lampu kota atau warung-warung kecil yang ramai dengan pembelinya. Aku mencoba menggali informasi dari temanku mengenai dhalang yang akan aku temui malam ini.
“Malem ini ceritanya itu judulnya “Lampahan Banjaran Abiyasa”. Aku belum pernah denger apa lihat sih, tapi banyak orang bilang dhalang itu pembawaannya menarik.” Ujar temanku yang sedang memegang kendali motor kami.
“Emang siapa si dhalangnya?” Tanyaku penasaran.
“Rama Aditya. Tapi banyak penikmat wayang yang panggil dia Ki Mbilung. Setauku kalo dipewayangan emang ada nama julukannya gitu. Dia sendiri asalnya dari Pati.” Lanjutnya.
Obrolan kami terus berjalan sampai akhirnya kami sampai di tempat tujuan kami. Aku dan temanku segera menuju area penonton. Kami memilih tempat yang nyaman agar kami dapat menikmati pertunjukkan dengan baik. Beberapa saat kemudian gamelan pengiring pertunjukan mulai ditabuh. Alunan yang terbentuk dari tabuhan beberapa alat musik gamelan ini menghasilkan irama yang padu. Begitu damai dan menenangkan. Sungguh, aku sangat menikmatinya.
Di sela-sela menunggu pertunjukan dimulai aku masih saja teringat obrolanku dan temanku dalam perjalanan tadi. Dhalang yang akan aku tonton kali ini memiliki cerita dan riwayat perjalanan yang menarik. Berawal dari kecintaannya terhadap wayang sejak kecil menghantarkan dirinya menjadi seorang dhalang seperti saat ini. Namun, dalam penggapaian itu semua dia harus berjuang mati-matian. Berasal dari keluarga yang notabennya bukan seorang seniman tidak menyurutkan dirinya untuk belajar dan berjuang.
Belajar memainkan wayang juga beberapa alat musik ia mulai sejak kelas satu SMP di sebuah sanggar yang telah membesarkan namanya yaitu Sanggar Shihing Kridho Mukti. Agar dapat berlaga seperti dhalang sesungguhnya sesekali dia membeli wayang yang kala itu dia dapatkan dari uang sakunya yang ditabung. Wayang seharaga dua puluh ribuan pada jamannya menemani perkembangan Rama. Kondisi keluarga yang bisa dikatakan pas-pasan tak membuat semangat Rama surut. Ia terus belajar dan belajar. Aku cukup salut dengan semangatnya. Jiwa muda memang selalu membangkitkan apapun yang dikatakan tidak mungkin oleh dunia.
Beberapa tahun belajar dan menempuh perjalanan yang panjang, sering dirinya megikuti kontes pertunjukan wayang agar dapat lebih mengolah kemampuannya. Acara tersebut salah satunya adalah temu dhalang cilik senusantara. Tak hanya memainkan wayang Rama juga pandai bermain alat musik gamelan dan cukup paham dengan iringan pewayangan. Karena kata gurunya 60% kesuksesan pertunjukkan wayang itu membentuk iringan. Sangat menganggumkan. Kebanyakan orang mungkin tak tahu akan hal ini. Seorang dhalang yang memainkan wayangnya dibalik layar ternyata memiliki kemampuan yang lain juga.
Dibalik kesuksesannya yang sekarang dengan umurnya yang masih muda, 18 tahun tepatnya, dia banyak termotivasi dari seseorang yang dia idolakan. Aku kira itu pasti. Dan setiap orang akan memilikinya. Ki Mantep Darsono salah satu dhalang kondang Indonesia menjadi pilihan Rama. Jika tak tahu, akan aku perjelas. Beliau adalah bintang iklan oskadon. Jika ingat pasti akan tahu sosoknya yang mana.
“Menurutmu kenapa dia harus menjadi seorang dhalang? Dia bisa saja memilih hal lainnya selain dhalang.” Ucapku tiba-tiba yang begitu penasaran dengan sosok dhalang satu ini.
“Entah. Tapi aku pernah mendengarnya ketika dia diundang disebuah siaran radio. Host menanyakan hal yang sama sepertimu. Dia hanya menjawab kalau pada dasarnya semua itu karena kecintaannya terhadap wayang. Selain itu, menurutnya sebagai generasi muda sudah sepantasnya untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya Indonesia. Ditambah wayang sudah diakui UNESCO sebagai warisan luhur yang berasal dari nenek moyang kita. Dia sangat berbangga akan hal itu.” Ujarnya panjang lebar.
Ah! Rama. Mungkin dirimu hanya satu dari sekian generasi muda yang menyadari hal seperti itu. Ketidakpedulian memang terkadang selalu menghinggapi generasi muda akan hal-hal membanggakan di negrinya. Aku bisa mengatakan dunia perwayangan dan Indonesia berbangga memiliki dhalang muda sepertimu.
Pertunjukan akan segera dimulai. Aku mencoba fokus terhadap apa yang akan ditampilkan oleh dhalang muda ini. Meskipun mungkin nanti aku banyak tak paham, tapi setidaknya malam ini aku bisa melihat juga menikmati kebudayaan Indonesia yang sangat membanggakan. Dengan segala cerita menariknya yang penuh nilai kehidupan wayang menjadi pertunjukan yang patut kita tonton.
Pertunjukan berjalan cukup lama. Diriku masih setia dan menyimak dengan baik. Sampai akhirnya pertunjukan usai dan aku kembali ke rumah. Malam ini secuil cerita yang tertulis akan aku bungkus rapi-rapi. Tak hanya penuh pembelajaran tetapi juga ajakan untuk mengenal, mencintai juga melestarikan kebudayaan bangsa ini. Salah satunya adalah wayang. (Reporter: Elsa Novi; Editor: Tim Redaksi)

0
0
0
s2sdefault
Joomla templates by a4joomla