Sedekah Bumi Desa Lahar Tlogowungu Berlangsung Dengan Protokol Kesehatan

101fm, Pati Tlogowungu – Tradisi sedekah bumi bagi masyarakat desa merupakan ritual yang mau tidak mau diselenggarakan. Karena di masa pandemi, mau tidak mau penyelenggaraanya harus memenuhi dan mengikuti protokol kesehatan penanganan virus corona.
Sedekah bumi sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan YME, atas hasil bumi yang melimpah, senantiasa diaktualisasikan dengan serangkaian kegiatan ritual. Namun ada yang berbeda di masa pandemi covid-19 sekarang ini. Penyelenggaraannya harus mematuhi dan memenuhi anjuran pemerintah dengan menjalankan protokol kesehatan. Seperti sedekah bumi di Desa Lahar Kecamatan Tlogowungu yang berlangsung sederhana, dengan meminimalkan kerumunan warga.
“Kami menggelar sedekah bumi dan terlaksana dengan baik sesuai rencana. Tentu dengan mematuhi protokol kesehatan oleh pemerintah,” ujar Kepala Desa Lahar, Setiawan Budhiaji usai melakukan ritual adat, (25/6/2020).

Ritual sedekah bumi Desa Lahar diawali dengan kades beserta para perangkat desa didampingi seorang dalang dan dua sinden mengelilingi bekas peninggalan leluhur desa (Danyang). Lokasinya, berada di tengah pasar desa setempat. Rumah peninggalan leluhur inilah lebih dikenal dengan sebutan ‘punden’. Setelah ritual selesai, dilanjutkan dengan doa atau bancakan. Dalam panjatan doa, sesepuh desa bersyukur atas limpahan karunia dari sang pencipta dan memohon agar masyarakat desa setempat diberikan kedamaian serta kesejahteraan.
Untuk menghindari aksi rebut, aparat desa membagikan nasi berkatan secara rata kepada warga desa, sementara warga dari luar desa tidak diperbolehkan datang.
“Memang tidak seperti tahun sebelumnya yang biasanya banyak warga dari berbagai desa datang ke sini. Memang kami punya aturan di tengah pandemi ini. Tapi Alhamdulillah semua bisa terlaksana dengan baik. Semoga ke depan desa ini menjadi desa yang semakin tetram dan rakyatnya bisa bekerja dengan lancar dan mendapat barokah,” harap Kades Lahar.
Kades Lahar Kecamatan Tlogowungu Setiawan Budhiaji mengatakan, segala bentuk kesenian tradisional seperti ketoprak, kirab, pentas musik, dan turnamen baik sepak bola maupun volly ditiadakan, untuk mengindari berkumpulnya masa. Bahkan, Namun, pertunjukan wayang tetap dilakukan di punden setempat seiring dengan prosesi ritual adat. Hanya, durasinya tak lebih dari 10 menit. Sebab, wayang itulah syarat dari danyang desa setempat.(pas-gus)

0
0
0
s2smodern
Joomla templates by a4joomla