Cetak
Dilihat: 107

101fm, Pati Kota - Kedaulatan pangan menjadi persoalan sendiri bagi bangsa Indonesia. Karena sampai sekarang petani masih dibenturkan masalah regulasi yang disinyalir menghambat peningkatan sektor pertanian.

Kondisi sekarang ini, banyak masyarakat terutama anak muda di desa-desa yang meninggalkan aktivitas pertanian yang merupakan peninggalan budaya bangsa Indonesia.

Saat membuka Bimbingan Teknik Penyuluh dan Petani Milenial secara virtual di New Merdeka Hotel, Rabu (24/3/2021), Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mengatakan, ketidaktertarikan mereka untuk menekuni pertanian, karena memang dari aspek ekonomi petanian belum menjanjikan, sehingga anak – anak muda lebih banyak yang keluar kota untuk menjadi tenaga kasar, kuli ataupun TKI dibandingkan menjadi petani.

 “Ini tentunya memprihatinkan bagi kita semua. Dalam posisi ini kita harus mulai memkirkan SDM kita, bagaimana agar anak – anak muda mau kembali ke desa untuk membangun desa dalam bertani untuk memenuhi target ketersedian pangan menuju kedaulanan pangan nasional,” jelasnya.

Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar, kebutuhan pangan tentunya cukup besar. Data BPS terbaru menyebutkan kebutuhan pangan per kapita mencapai 111 kg/tahun. Namun sampai sekarang belum memenuhi kebutuhan pangan. Ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi di antaranya, sarana pendukung pertanian, rusaknya irgasi dan bendungan, rusaknya jalan pertanian, serta sarana prasarana lainnya yang tentunya menjadi persoalan, dan termasuk juga SDM sebagai salah satunya.

“Ke depan Sumber Daya Manusia ini akan menjadi ujung tombak, bahkan yang harus kita khawatirkan adalah penyuluh – penyuluh kita yang nasibnya masih belum jelas walaupun sekarang ini kita sudah berjuang akhirnya sudah pada posisi diangkat menjadi P3K, meskipun ini belum memenuhi rasa keadilan, karena penyuluh yang berumur diatas 35 tahun tidak bisa diangkat menjadi PNS, padahal mereka masuk menjadi penyuluh sebelum usia 35 tahun,” terangnya.

Berbicara tentang pertanian, kata Politikus Senior Partai Golkar Firman Soebagyo, di beberapa negara maju telah membuat regulasi untuk melindungi hasil pertanian mereka. Contohnya di Amerika ada 4 komoditi strategis yang dilindungi sepert Gandum, kapas, kedelai dan jagung. Karena ini adalah produk – produk unggulan yang bisa menggali devisa negara. Namun di Indonesia belum punya undang – undang yang melindungi komoditi strategis. Seperti sawit yang potensinya sangat luar biasa, yang ketika krisis kemarin pada awal – awal tahun pandemi terjadi, sawit masih bisa mendulang perolehan devisa untuk negara diatas Penerimaan minyak dan gas bumi, belum hasil perkebunan lainnya, seperti teh, kopi dan coklat.(pas-gus)

 

0
0
0
s2smodern
powered by social2s