Cetak
Dilihat: 48


101pasfmpati, Pati Kota - Selama kurun waktu Januari hingga September 2021 ini, telah terjadi hampir 1800-an kasus perceraian di Kabupaten Pati. Rata-rata, perceraian terjadi diantara pasangan suami istri ini, karena alasan ekonomi.
Di masa pandemi covid-19 ini, Pengadilan Agama (PA) kelas IA Pati mencatat angka perceraian sebanyak 1.794 kasus. 70% dari total angka perceraian itu, diajukan oleh istri yang memilih menjadi janda muda, ketimbang menderita akibat faktor ekonomi.

Hakim Juru Bicara Pengadilan Agama (PA) kelas IA Pati , Sutiyo mengatakan, pasangan suami istri yang sudah sah bercerai, baik cerai gugat maupun talak, yang lebih didominasi alasan ekonomi. “Tingginya kasus perceraian itu, lebih condong karena pihak istri yang mengajukan gugat cerai, dengan persentase 70% dibanding cerai talak yang sebagian besar wanita usia produkstif,” ujarnya.
Fenomena ini, kata Sutiyo tentu menjadi garapan pemerintah daerah untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga masyarakatnya. Karena alasan ekonomi atau memiliki penghasilan yang memadahi, sehingga mengakibatkan melonjaknya kasus perceraian di Pati.
Sementara untuk kasus permohonan dispensasi nikah, kata Sutiyo juga meningkat. Hingga September ini, sudah terdaftar ada 491 pengajuan. Salah satu penyokongnya terbitnya UU Nomr 16 tahun 20219 tentang perkawinan yang menetapkan batas usia pernikahan 19 tahun. “Alasan permohonan dispensasi nikah di antaranya hamil di luar nikah, sudah berhubungan badan, hingga alasan undangan acara pernikahan sudah terlanjur disebar,” terangnya.
Hakim Juru Bicara PA Kelas IA Pati Sutiyo menyayangkan terjadinya pernikahan anak, bahkan pemerintah pun dengan penerbitan UU tentang pernikahan tersebut dengan harapan agar calon pengantin lebih matang dalam menjalani pernikahan.(Agus Pambudi)

0
0
0
s2smodern
powered by social2s