Peternak Jangkrik di Pati Rugi, Akibat Harga Anjlog

Para petani jangkrik dalam belakangan ini, terancam kehilangan pekerjaannya. Ini dipicu dengan anjlognya harga jual jangkrik dalam beberapa pekan terakhir ini.
Ibarat pukulan telak di dalam olahraga tinju, yang kali ini sedang petani jangkrik di Desa Bumiharjo Kecamatan Winong rasakan sekarang ini, menyusul anjloknya harga jual komoditas yang menjadi sumber mata pencahariannya. Apalagi di masa pandemi sekarang ini. Di desa ini, ada empat puluhan warga yang menggantungkan hidupnya dari beternak jangkrik.

Seorang peternak jangkrik Hanif Fatoni menuturkan, sebulan terakhir ini harga jual jangkrik yang semula Rp50 ribu perkilogramnya, kini anjlok Rp16 ribu perkilogram. Ini jomplang bila dibanding dengan modal awal mulai dari bibit telur, pakan hingga perawatan. “Untuk harga bibit telur saja masih terbilang tinggi Rp200 ribu perkilogram, dan hanya bisa ditebar pada 2 kotak kandang saja. Sedang harga pakan (voer) yang tak kalah tingginya Rp400 ribu per sak ukuran 50 kilogram, yang hanya cukup untuk pakan satu kotak saja dalam sebulan panen. Padahal, satu kotak maksimal hanya menghasilkan panen 50 sampai 60 kilogram saja,” ujarnya.
Fatoni mengaku, bila dikalkulasi hasil panen dengan harga jual yang sekarang, tidak menutup modal yang sudah dikeluarkan. Belum lagi pengeluaran untuk pakan tambahan dan tenaga.
Petani jangkrik lainnya, Teguh Prasetyo berharap harga kembali normal, dengan campur tangan pemerintah. Sehingga dapat mendongkrak harga jual. “Selama ini, para petani menjual hasil beternak jangkrik kepada tengkulak,” jelasnya.
Para petani jangkrik di Desa Bumiharjo Kecamatan Winong Kabupaten Pati juga sudah berupaya mencari pengepul hingga ke berbagai daerah, namun hasilnya nihil, kalaupun ada harga jualnya masih rendah. Untuk menghindari rugi, sejumlah petani memilih untuk berhenti sementara waktu beternak jangkrik hingga harga mulai normal kembali.(Agus Pambudi) 

0
0
0
s2smodern
Joomla templates by a4joomla