Antisipasi Gelombang III Covid, Pelaku Wisata Diminta Reschedule dan Tidak Ada Pemberangkatan Trip

101pafmpati, Pati Kota - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) meminta kepada anggotanya menjadwalkan ulang program perjalananan dan tidak memberangkatan perjalanan wisatanya. Ini menindaklanjuti kebijakan pembatasan perjalanan wisata, dalam upaya mengantisipasi kemungkinan terjadinya gelombang III Covid-19, sekaligus menghindari kerugian, akibat dari rencana perjalanan yang tertunda.
Untuk mengindari kerugian besar karena harus menunda rencana program yang sudah tersusun, Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) mengingatkan anggotanya untuk berkaca dari pengalaman tahun lalu. Apalagi pemerintah telah memberikan peringatan prediksi gelombang III Covid-19, dengan kebijakan pembatasan perjalanan wisata.

Diwawancara Jumat pagi (19/11/2021), Wakil Ketua I DPD ASITA Jawa Tengah Sudarko mengatakan, prediksi gelombang ketiga covid-19 ini menjadi peringatan bagi pelaku perjalanan wisata, untuk berhati-hati menyikapinya. Setidaknya berkaca dari pengalaman tahun sebelumnya, hingga berdampak menanggung kerugian yang besar. Karena program perjalanan harus ditunda, sehingga pelaku perjalanan harus mengembalikan biaya yang telah dibayarkan pengguna jasanya. “Ansisipasi sementara memang kita mengubah ulang jadwal (reschedule) yang sudah terprogram. Jangan ada pemberangkatan trip di Desember, kita warningnya di 20 Desember 2021 sampai 3 Januari 2022. Tapi bagaimana langkah berikutnya untuk antisipasi covid gelombang III ini kita lihat lihat perkembangannya setelah natal dan tahun baru itu ada trend naik lagi atau justru melandai,” katanya.
Pengalaman dari trend covid sebelumnya, gelombang II covid terjadi justru pasca lebaran. Dari pengalaman itulah, kata Sudarko bila trend covid pasca natal dan tahun baru (nataru) melandai, di Januari 2022 seharusnya sudah bisa nromal. Hanya saja kondisi yang masih labil, harus diantisipasi dengan perencanaan yang matang. “Hanya saja kalau sudah deposite hotel, pembelian tiket pesawat ini yang menyebakan kerugian bagi kami. Ketika biro perjalanan sudah menerima deposit itu sudah melangkah bayar uang muka hotel, membelikan tiket pesawat atau kereta itu harus dipahami, dan bila terjadi hal seperti ini hanya bisa reschedule, kalau pun ada refund itu nilainya kecil. Contoh saja tiket pesawat yang kita pesan refund-nya hanya 25% itu pun butuh waktu sampai berbulan-bulan,” tuturnya.
Wakil Ketua I DPD ASITA Jawa Tengah Sudarko mengingatkan anggotanya untuk berhati-hati saat menerima pesanan (oreder) dari pengguna jasa/klien di situasi yang tidak menentu ini, dan usahakan dengan batasan waktu yang pendek, untuk menghindari kerugian.(Agus Pambudi)

0
0
0
s2smodern
Joomla templates by a4joomla