Petani Tebu di Pati Di-bimtek Pengembangan Tanaman Semusim

101pasfmpati, Pati Kota - Komisi IV DPR RI bersama Ditjen Perkebunan Kementan RI menggelar bimbingan teknik pengembangan tanaman semusim dan rempah 2021, di Hotel New Merdeka, Kamis (25/11/2021). Bimtek ini untuk lebih memahamkan petani tebu, agar dapat meningkatkan produksi tebunya.

Bimtek tersebut mengikusertakan puluhan petani dan pelaku usaha tanaman tebu yang tersebar di Kabupaten Pati. Dan bimtek ini dipandang perlu untuk meningkatkan kemampuannya dengan teknologi-teknologi budidaya tanaman tebu yang benar, sehingga hasil produksinya meningkat.

Saat membuka secara virtual bimbingan tehnik pengembangan tanaman semusim dan rempah, di Hotel New Merdeka, Kamis (25/11/2021), anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo mengatakan, pihaknya memandang perlu untuk mem-bimtek petani-petani tebu di Pati, untuk menekan defisit anggaran negara yang terkuras untuk impor gula sekitar Rp27 triliun, serta mendorong Indonesia swasembada gula. “Devisa terbesar semasa pandemi ini dari sektor perkebunan. Yaitu ketika pelaporan pemerintah pada 2020, ketika devisa batubara turun drastis US$7,7 milyar, justru sektor perkebunan naik hingga US$13 milar, ini sangat luar biasa,” terangnya.

Bicara soal perkebunan khususnya tebu, kata Firman, pada 1930an di Jawa menjadi penghasil gila terbesar di dunia. Waktu itu luasan lahan tebu berkisar 200ribu hektar dengan produksi hampir 3juta ton. Karena waktu itu tingkat kesuburan tanah, unsur hara dan irigasi terhadap lahan yang ada masih terjamin. Namun kondisi sekarang menjadi terbalik, Indonesia justru menjadi pengimpor gula terbesar kedua setelah Amerika Serikat dengan nilai Rp27 triliun. “Nilai itu melebihi China yang penduduknya lima kali lipat lebih banyak nilai impor gulanya hanya sekitar Rp25 triliun. Ini disebabkan tingkat kebutuhan konsumsi gula masyarakat Indonesia itu masih tinggi. Kalau kita bandingkan dengan Thailand, perkapita konsumsi gula Indoensia 13 Kg/tahun, sedang Thailand hanya 7Kg/tahun. Oleh karena itu kalau kita mau menghemat devisa atau menekan kebutuhan agar tidak defisit, budayakan kurangi konsumsi gula,” terangnya.

Sekarang ini, luasan lahan tebu 430ribu hektar dengan tingkat produksi 2,1 juta ton gula, yang menurut politikus Partai Golkar Firman Soebagyo sangat ironis, dibanding semasa 1930an lali. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini Ditjen Perkebunan Kementan dan DPR RI mengadakan bimbingan teknik, agar petani lebih mengenal terhadap kemajuan pertanian dengan menggunakan teknologi. Bimtek-bimtek semacam ini nantinya juga akan diintensifkan lagi.(pas-gus)

0
0
0
s2smodern
Joomla templates by a4joomla