Cetak
Dilihat: 886

Batangan – Produsen garam di Pati, dalam beberapa bulan terakhir ini menggunakan bahan baku impor.  Ini diakibatkan, selain lebih mahal, pasokan garam lokal dari petani pada saat sekarang ini, berkurang.
Keterpaksaan produsen garam di Pati menggunanan bahan baku garam impor tersebut, untuk memenuhi kebutuhan produksi garam konsumsi 50 ton/bulannya.

Menurut seorang produsen garam di Desa Ketitang, Kecamatan Batangan, Sri Lestari,  dia menggunakan bahan baku garam import, akibat pasokan bahan baku garam lokal berkurang. Karena petani garam belum bisa membuat garam secara maksimal, akibat cuaca yang tidak mendukung.“Sehingga stok garam di pasaran menjadi langka dan harganya juga melonjak. Agar tetap produksi, maka saya terpaksa mendatangkan  bahan baku garam impor dari Australia dan India,” tutur Sri Lestari.
Sri Lestari mengaku,  untuk mengolah menjadi garam konsumsi, dia mencampur garam impor dengan garam lokal, sampai pasokan dan garam lokal kembali normal.  Meski diakuinya, rasa garam konsumsi pencampuran dua jenis garam tersebut, sedikit terasa pahit.
“Meski garam impor memiliki rasa lebih pahit ketimbang bahan baku garam lokal. Namun  kita terpaksa memilih garam impor tersebut, lantaran minimnya pasokan dari petani. Untuk bahan baku garam impor perkilonya dihargai Rp. 2.250, sedangkan garam lokal dipatok Rp. 3ribu/Kg,” katanya.Seiring dengan berkuranganya pasokan garam lokal ke produsen, diprediksi harga  garam konsumsi beryodium di pasaran terus melonjak. Dan berdasarkan pantauan harga di Pasar Kuniran Batangan, harga garam beryodium naik Rp.6ribu rupiah menjadi Rp.11ribu/Kg.(•)

0
0
0
s2sdefault
powered by social2s