Cetak
Dilihat: 1623

Pati, Kota – Zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun pelajaran 2018/2019, untuk jenjang pendidikan SMP, dinilai kurang tersosialisasi kepada calon peserta didik maupun orang tua. Sehingga, sampai mendekati batas waktu pendaftaran berakhir, masih ada sebagian sekolah yang kekurangan siswa, dan disisi lain sekolah favorit sampai menolak karena melebihi kapasitas.

Sistem zonasi PPDB yang sudah mulai diterapkan tahun lalu, belum tersosialisasi dengan masif kepada siswa maupun orang tua siswa. Sehingga, dalam pelaksanaannya terjadi kegagapan bagi siswa yang saat mendaftar tanpa pendampingan orang tua. Mulai dari pilihan sekolah hingga zona.
Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Pati Endah Sri Wahyuningati berharap kedepan, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) mengevaluasi terhadap penerapan zonasi dalam PPDB.  “Zona ini menjadi ketentuan yang tidak bisa dipungkiri, sehingga banyak sekolah yang favorit sampai menolak. Tapi sekolah tertentu bahkan sangat kurang dari murid. Padahal zonasi ini untuk mempermudah pemerataan,” tuturnya.
Endah Sri Wahyuningati menegaskan, evaluasi penerapan zonasi harus dilakukan. Dan sosialisasi zonasi yang dinilai membingungkan orang tua dan siswa itu, harus sedini mungkin disampaikan. “Karena orang tua tidak paham, banyak anak sekolah dari luar kecamatan yang tinggal dengan kos jauh dari tempat tinggal dan jarang ketemu dengan keluarganya. Sehingga ketika dihadapkan dengan persoalan persyaratan Kartu Keluarga yang dipermasalahkan tidak bisa masuk di sekolah tertentu, akibat penerapan aturan zonasi,” katanya.
Berdasar sumber laman http://pati.siap-ppdb.com  pada Kamis (5/7/2018) hingga pukul 16.17, beberapa SMP di Kecamatan Pati yang kekurangan siswa dalam PPDB diantaranya SMP N 4 dari pagu 256 siswa baru terisi 101 siswa, SMP N 5 dengan pagu 240 siswa baru terpenuhi 164 siswa, dan SMP Negeri 6 dengan pagu 224 siswa baru terisi 39 siswa.(●)

0
0
0
s2smodern
powered by social2s