{"id":6953,"date":"2026-01-09T11:14:38","date_gmt":"2026-01-09T04:14:38","guid":{"rendered":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/?p=6953"},"modified":"2026-01-09T11:14:38","modified_gmt":"2026-01-09T04:14:38","slug":"jkn-menjadi-penopang-hidup-jaswadi-di-masa-senja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/2026\/01\/09\/jkn-menjadi-penopang-hidup-jaswadi-di-masa-senja\/","title":{"rendered":"JKN Menjadi Penopang Hidup Jaswadi di Masa Senja"},"content":{"rendered":"<p>pasfmpati.com, Kota; Di dalam sebuah ruang perawatan yang hening, hanya terdengar bunyi halus mesin medis yang bekerja tanpa henti. Suara itu menjadi latar kesunyian yang sarat makna. Di sudut ruangan, seorang pria lanjut usia tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang-selang kecil terpasang di tangannya, terhubung dengan mesin hemodialisis yang perlahan mengalirkan darah keluar dan kembali ke dalam tubuhnya. Pria itu adalah Jaswadi (65), warga Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.<br \/>\n<!--more-->Wajahnya tampak tenang meski menyimpan letih yang mendalam. Keriput di kening dan tangannya menjadi saksi perjalanan hidup panjang yang telah ia lewati. Jaswadi adalah seorang buruh tani, pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik, sementara usia perlahan menggerus tenaganya. Kini, di tengah keterbatasan kondisi kesehatan, ia masih harus berjuang untuk bertahan hidup, menjalani cuci darah secara rutin di Rumah Sakit Kayen, Pati, Kamis (08\/12).<br \/>\n\u201cDi usia yang sudah renta ini, saya harus tetap semangat berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Walaupun keadaan seperti ini, saya tidak boleh menyerah demi istri dan anak,\u201d tuturnya. Sesekali, pandangannya tertuju pada selang yang menempel di tangannya, seolah menyadari bahwa mesin itulah yang kini membantunya tetap hidup.<br \/>\nPenghasilan Jaswadi tidak menentu. Ia hanya bekerja ketika ada orang yang membutuhkan tenaganya untuk mengolah sawah, baik saat masa tanam maupun panen. Upah yang diterimanya pun bukan berupa uang.<br \/>\n\u201cBiasanya saya dikasih gabah, kurang lebih lima karung. Itu saya simpan, tidak dijual. Nanti saya keringkan untuk kebutuhan makan kami sekeluarga,\u201d ucapnya sambil mengusap keningnya yang berkerut.<br \/>\nDi tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang berat, Jaswadi bersyukur telah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional kurang lebih sembilan tahun lalu. Program tersebut kerap ia manfaatkan untuk berobat, namun manfaat terbesar benar-benar ia rasakan sejak harus menjalani cuci darah.<br \/>\n\u201cSaya divonis harus cuci darah sejak enam tahun yang lalu. Setiap minggu dua kali saya harus menjalani pengobatan ini,\u201d katanya lirih. Meski harus bolak-balik rumah sakit, ia tidak pernah merasa terbebani oleh biaya.<br \/>\nSejak pertama kali menjalani hemodialisis, Jaswadi mengaku tidak pernah diminta membayar ataupun membeli obat secara mandiri. Seluruh pelayanan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.<br \/>\n\u201cSaya tidak pernah diminta bayar apa pun. Semua dijamin BPJS Kesehatan. Perawatnya juga ramah-ramah, saya merasa diperhatikan. Itu membuat saya tenang dan merasa aman,\u201d ujarnya sambil menatap perawat yang sedang memeriksa mesin hemodialisis.<br \/>\nkisah Jaswadi menjadi gambaran nyata bagaimana Program JKN hadir memberi harapan. Bagi seorang buruh tani yang hidup sederhana, jaminan kesehatan bukan sekadar fasilitas, melainkan penopang hidup dan sumber kekuatan untuk terus bertahan, demi keluarga yang menanti di rumah.(*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>pasfmpati.com, Kota; Di dalam sebuah ruang perawatan yang hening, hanya terdengar bunyi halus mesin medis yang bekerja tanpa henti. Suara itu menjadi latar kesunyian yang sarat makna. Di sudut ruangan, seorang pria lanjut usia tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang-selang kecil terpasang di tangannya, terhubung dengan mesin hemodialisis yang perlahan mengalirkan darah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":6954,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1,8,24,21,20],"tags":[],"class_list":["post-6953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-informasi","category-lain-lain","category-pendidikan","category-sosial"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6953"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6953\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6955,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6953\/revisions\/6955"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6954"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pasfmpati.com\/radio\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}