pasfmpati.com, Pati Sukolilo; Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) mengadakan aksi lingkungan dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Hari Bumi. Kegiatan berlangsung di Sukolilo, Kabupaten Pati, dengan melibatkan masyarakat dan tokoh-tokoh peduli lingkungan sekitar pegunungan Kendeng.
Tokoh JMPPK, Gunretno, menyebut April sebagai bulan bersejarah karena lahirnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada 2016. KLHS merupakan hasil desakan warga kepada Presiden Joko Widodo agar memperhatikan dampak tambang di Kendeng.
Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan puisi alam di lokasi bekas tambang yang kini rusak parah. Setelahnya, panggung musik digelar sebagai simbol perlawanan warga terhadap perusakan lingkungan di kawasan Kendeng.
“Pada 14 April kami mendatangi DPR dan aparat untuk melaporkan maraknya tambang liar di Kendeng,” ujar Gunretno. Ia menambahkan bahwa JMPPK bergerak langsung karena laporan seringkali tidak ditindaklanjuti secara serius.
Gunretno menyatakan warga tidak hanya melawan tambang, tapi juga penggundulan hutan yang merugikan petani lokal. “Kami menyuarakan keadilan karena alam rusak, dan yang paling menderita adalah petani dan generasi mendatang,” katanya.
Pada malam hari, acara dilanjutkan dengan pengajian bertema lingkungan yang dihadiri tokoh nasional dan masyarakat umum. Beberapa di antaranya adalah Busyro Muqoddas, KH Budi Harjono, dan Gus Faisal dari LBAK Jawa Tengah.
Musisi Usman and the Blackstones Band turut tampil dalam acara, mempersembahkan lagu dari album Bumi dan Aku Kini. “Album ini kami rilis untuk Hari Bumi dan Hari Toko Rekaman, sebagai bentuk perlawanan,” kata Usman sang vokalis.
“Kami ingin musik menjadi media perlawanan terhadap ketidakadilan dan kerusakan lingkungan yang makin meresahkan,” lanjutnya. Ia menekankan bahwa masalah Kendeng adalah simbol isu lingkungan yang lebih luas di Indonesia.(*)


