pasfmpati.com, Pati Kota ; Kondisi industri tekstil nasional kian terpuruk akibat lambannya respons pemerintah menghadapi tantangan global dan domestik. Tekanan datang dari berbagai arah, mulai dari impor ilegal hingga melemahnya ekspor ke pasar internasional.
Anggota DPR RI Firman Soebagyo menilai pemerintah lalai dalam melindungi industri tekstil nasional dari praktik-praktik merugikan. “Impor ilegal dibiarkan, negara tidak hadir, akibatnya pelaku usaha lokal gulung tikar satu per satu,” tegas Firman.
Ia juga menyoroti ketidaktegasan kebijakan yang membuka celah masuknya barang-barang tekstil asing secara masif dan merusak harga pasar. “Kebijakan yang menyakitkan itu saat peti-peti impor dilepas tengah malam tanpa pengawasan ketat,” lanjutnya.
Meski begitu, Firman tetap melihat adanya peluang jika pemerintah mau mendukung inovasi dan produksi serat lokal ramah lingkungan. “Indonesia bisa memproduksi serat dari daun pisang atau serat alami lain, tinggal dukungan riset dan aplikasi,” katanya.
Di sisi lain, ia mendorong agar warisan budaya seperti batik segera dipatenkan untuk mencegah klaim dari negara lain. “Negara harus hadir mematenkan batik, bukan menunggu produsen bergerak sendiri,” ujarnya penuh penekanan.
Terakhir, Firman mengajak semua pihak—termasuk buruh dan pelaku industri—untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi. “Buruh harus siap bertransformasi, karena seribu tenaga kerja bisa tergantikan dua operator mesin pintar,” pungkasnya.(*)

12 Juli 2026
Rembang, Kota; Sekitar 400 masyarakat menghadiri sosialisasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan BPJS Kesehatan Cabang Pati bersama Komisi…


