Sinergi Promotif-Preventif Meningkat, FKTP Rembang Buktikan Aksi Nyata

pasfmpati.com, Rembang Kota ; Kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Promotif Preventif Semester I Tahun 2025 yang digelar BPJS Kesehatan Cabang Pati pada Senin (16/6) menjadi ajang berbagi praktik baik antar-FKTP di Kabupaten Rembang.

Puskesmas Sumber, salah satu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Kabupaten Rembang, tampil menonjol dengan sejumlah praktik baik, termasuk dalam pelaksanaan Skrining Riwayat Kesehatan (SRK), skrining lanjutan, hingga pengelolaan peserta Prolanis dan PRB.

Kepala Puskesmas Sumber, Dwi Pudjiastuti, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan Duta Skrining yang berjaga di Pojok Skrining.

“Fungsinya mendownloadkan aplikasi Mobile JKN bagi peserta dan membantu mengarahkan pengisian SRK. Bisa juga menggunakan barcode. Untuk entry dilakukan secara realtime saat kunjungan poli,” jelasnya.

Hingga pertengahan Juni 2025, Puskesmas Sumber telah mencatatkan capaian gemilang: peringkat 3 terbaik SRK dan peringkat 4 skrining lanjutan. Dalam hal pengelolaan penyakit kronis, mereka juga aktif menjalankan Program Prolanis dengan dua klub hipertensi beranggotakan 409 orang dan dua klub diabetes melitus dengan 251 peserta.

“Capaian RPPT 2025 akan terus kami tingkatkan melalui berbagai upaya yang ada salah satunya pendekatan humanis kepada peserta JKN,” ujarnya.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui prinsip Senyum, Salam, Sapa, menjadi pendengar aktif, hingga pemberian reward untuk hasil laboratorium yang bagus. Bahkan kunjungan rumah dilakukan untuk mengingatkan pasien minum obat serta hadir kontrol.

“Kami juga siapkan WAG khusus untuk penanggung jawab Prolanis, yang di dalamnya termasuk Kapus agar semuanya terpantau. Kami punya fasilitas akupuntur yang ternyata efektif menarik kaum lansia,” tambahnya.

Sementara itu, dari sisi dokter praktek mandiri yang bekerjasama dengan BPJS Keseatan Stefanus Tonny AS turut menyampaikan beberapa catatan kritis terkait teknis layanan. Ia mempertanyakan soal mekanisme klaim laboratorium dalam pelaksanaan program Promotif Preventif.

“Jika ada pasien SRK berisiko hepatitis B atau C yang dicek di laboratorium, apakah lab akan menagih ke BPJS, dokter keluarga, atau akan dipotong dari kapitasi?” tanyanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam mendiagnosis hipertensi (HT) dan diabetes melitus (DM).

“Sejawat jangan buru-buru mendiagnosa. Harus dievaluasi beberapa kali karena kalau sudah tercatat sebagai pasien HT atau DM, penanganannya jadi berkelanjutan, padahal bisa saja bukan HT atau DM,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menyarankan FKTP agar segera menginput data peserta PRB yang sudah stabil dan dikembalikan dari FKRTL ke sistem Apotek Prolanis.

“Kalau tidak segera diinput, bisa-bisa ketika pasien datang ke Apotek PRB obat tidak tersedia, dan ini akan berdampak pada pengendalian penyakit tersebut,” jelasnya.

Menanggapi dinamika tersebut, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Pati, Wahyu Giyanto, menegaskan bahwa penguatan layanan promotif dan preventif merupakan prioritas nasional.

“Program skrining, Prolanis dan PRB harus terintegrasi dan berorientasi pada upaya pencegahan. FKTP memegang peran sentral, karena skrining riwayat kesehatan dan penapisan penyakit harus dilakukan secara sistematis,” jelasnya.

Wahyu juga menyoroti pentingnya pelaksanaan SRK secara mandiri melalui Mobile JKN dan kanal digital lainnya.

“Setiap peserta JKN wajib mengisi SRK minimal setahun sekali sebelum mendapatkan layanan penapisan. Jika SRK menunjukkan risiko, FKTP wajib melakukan tindak lanjut dengan pemeriksaan lanjutan, baik melalui kapitasi maupun non kapitasi,” terangnya.

Menurut Wahyu, pelayanan Prolanis harus menyentuh aspek fisik, edukasi, hingga psikososial peserta. Pemeriksaan rutin, pemberian obat, edukasi, dan senam Prolanis bukan hanya sekadar formalitas, tapi harus berdampak langsung pada peningkatan kualitas hidup peserta.

“Kita mendorong pembentukan klub Prolanis baru, validasi peserta PRB aktif, serta memastikan tidak terjadi fraud dalam kegiatan kelompok. Ini bagian dari akuntabilitas layanan.”

BPJS Kesehatan mencatat, capaian Prolanis di Mei 2025 sudah menunjukkan peningkatan yang positif. Wahyu menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja FKTP di wilayah kerjanya, termasuk Kabupaten Rembang agar kualitas pelayanan dalam program promotif preventif terus meningkat.

“Kita akan terus perkuat kolaborasi dengan FKTP, laboratorium mitra, dan stakeholder lain. Harapan kami, masyarakat tidak hanya berobat saat sakit, tapi juga aktif dalam menjaga kesehatannya. Di situlah esensi dari promotif dan preventif JKN,” pungkas Wahyu.(*)

 

Kontributor :

Juni 2025
S S R K J S M
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Berita Terbaru

  • All Posts
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Budaya
  • Hukum
  • Info
  • Kecelakaan
  • Kriminal
  • Lain-Lain
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial