pasfmpati.com, Pati Kota ; Panahan tradisional tak sekadar hobi bagi Siti Annisa Mulyaningsih atau yang akrab disapa Anisa, melainkan jalan hidup yang ia tekuni sejak 2016. Kegiatan ini menjadi ruang berlatih jiwa dan raga sekaligus sarana silaturahmi di tengah kesibukan harian.
Ia mengenal panahan sejak kuliah, saat aktif dalam organisasi kampus yang memiliki divisi olahraga memanah. Dari situlah ketertarikannya tumbuh dan berkembang menjadi kecintaan yang mendalam terhadap jemparingan.
“Awalnya saya belajar dari kakak tingkat, lalu ikut komunitas dan mulai melatih adik kelas hingga luar kampus. Saya merasa tenang saat memanah, apalagi olahraga ini jadi salah satu sunah Rasul,” ujar Anisa mengenang awal mula perjalanannya.
Setelah lulus kuliah dan kembali ke Pati, ia menemukan semangat lama saat melihat sesi panahan di Car Free Day. Ia bergabung dengan komunitas panahan tradisional Perpatri sekitar tahun 2022, dan kembali rutin berlatih.
“Pandemi membuat saya banyak di rumah, lalu saya lihat ada jadwal jemparingan di CFD. Saya langsung bergabung, dan sejak itu aktif lagi sampai sekarang karena suasananya nyaman dan guyub,” jelasnya.
Anisa menyebut panahan sebagai olahraga yang fleksibel karena bisa dilakukan di mana saja selama tempatnya aman. Ia membuat target sederhana di halaman rumah, cukup jauh dari aktivitas orang lain di sekitarnya.
“Panahan itu tak butuh lapangan luas, yang penting ada ruang aman dan sasaran bisa dibuat sendiri. Buat saya, olahraga ini paling masuk akal secara biaya dan manfaat dibanding berenang atau berkuda,” pungkasnya dengan semangat.(Tim Liputan PPL Mahasiswa UIN Sunan Kudus)

26 Mei 2026
Pati, Batangan; Banjir yang merendam Desa Ketitangwetan selama tiga hari memicu ancaman kesehatan serius bagi warga Kabupaten Pati. Ratusan warga…

