pasfmpati.com, Kota ; Banjir yang merendam sentra bawang merah di Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, memaksa petani mengambil langkah darurat. Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, petani terpaksa memanen bawang merah lebih awal dari jadwal seharusnya.
Tanaman yang idealnya dipanen dalam dua hingga tujuh hari ke depan, kini dipetik saat berusia 45 hingga 50 hari. Petani bawang merah, Sutiono, mengatakan panen dini dilakukan untuk menyelamatkan tanaman dari risiko membusuk akibat genangan banjir setinggi satu meter.
Proses panen pun tidak berjalan mudah. Kondisi lahan yang terendam, licin, serta hujan yang terus turun menyulitkan petani saat memanen. Untuk mempercepat proses, petani memilih menggunakan terpal dibandingkan memanggul hasil panen satu per satu.
“Kami cukup kesulitan saat panen karena air masih tinggi dan medan sangat licin. Kalau dipanggul, butuh waktu lama, sehingga terpaksa pakai terpal agar lebih cepat,” ujar Sutiono.
Perwakilan Kelompok Tani Gangsar Tani, Warsito, menyebut dampak banjir tidak hanya memaksa panen dini, tetapi juga menurunkan harga jual bawang merah. Harga jual kini berada di bawah harga normal, sekitar Rp28 ribu per kilogram, sehingga menambah beban kerugian petani.
“Kami berupaya menyelamatkan tanaman agar masih ada hasil yang bisa dijual, meskipun tidak maksimal. Di sisi lain, biaya operasional justru bertambah,” jelas Warsito.
Petani berharap pemerintah dapat memberikan kemudahan, terutama untuk pembibitan ulang dan tambahan permodalan. Harapan kini juga tertuju pada surutnya banjir agar petani dapat kembali menanam dan perlahan memulihkan kerugian yang dialami. (*)

18 Mei 2026
Pati, Winong; Program nonfisik TMMD Reguler ke-128 Kodim 0718/Pati memperluas layanan kesehatan gratis bagi warga Desa Godo Kecamatan Winong. Kegiatan…


