JKN Menjadi Penopang Hidup Jaswadi di Masa Senja

pasfmpati.com, Kota; Di dalam sebuah ruang perawatan yang hening, hanya terdengar bunyi halus mesin medis yang bekerja tanpa henti. Suara itu menjadi latar kesunyian yang sarat makna. Di sudut ruangan, seorang pria lanjut usia tampak terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Selang-selang kecil terpasang di tangannya, terhubung dengan mesin hemodialisis yang perlahan mengalirkan darah keluar dan kembali ke dalam tubuhnya. Pria itu adalah Jaswadi (65), warga Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati.
Wajahnya tampak tenang meski menyimpan letih yang mendalam. Keriput di kening dan tangannya menjadi saksi perjalanan hidup panjang yang telah ia lewati. Jaswadi adalah seorang buruh tani, pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik, sementara usia perlahan menggerus tenaganya. Kini, di tengah keterbatasan kondisi kesehatan, ia masih harus berjuang untuk bertahan hidup, menjalani cuci darah secara rutin di Rumah Sakit Kayen, Pati, Kamis (08/12).
“Di usia yang sudah renta ini, saya harus tetap semangat berjuang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Walaupun keadaan seperti ini, saya tidak boleh menyerah demi istri dan anak,” tuturnya. Sesekali, pandangannya tertuju pada selang yang menempel di tangannya, seolah menyadari bahwa mesin itulah yang kini membantunya tetap hidup.
Penghasilan Jaswadi tidak menentu. Ia hanya bekerja ketika ada orang yang membutuhkan tenaganya untuk mengolah sawah, baik saat masa tanam maupun panen. Upah yang diterimanya pun bukan berupa uang.
“Biasanya saya dikasih gabah, kurang lebih lima karung. Itu saya simpan, tidak dijual. Nanti saya keringkan untuk kebutuhan makan kami sekeluarga,” ucapnya sambil mengusap keningnya yang berkerut.
Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi kesehatan yang berat, Jaswadi bersyukur telah terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional kurang lebih sembilan tahun lalu. Program tersebut kerap ia manfaatkan untuk berobat, namun manfaat terbesar benar-benar ia rasakan sejak harus menjalani cuci darah.
“Saya divonis harus cuci darah sejak enam tahun yang lalu. Setiap minggu dua kali saya harus menjalani pengobatan ini,” katanya lirih. Meski harus bolak-balik rumah sakit, ia tidak pernah merasa terbebani oleh biaya.
Sejak pertama kali menjalani hemodialisis, Jaswadi mengaku tidak pernah diminta membayar ataupun membeli obat secara mandiri. Seluruh pelayanan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
“Saya tidak pernah diminta bayar apa pun. Semua dijamin BPJS Kesehatan. Perawatnya juga ramah-ramah, saya merasa diperhatikan. Itu membuat saya tenang dan merasa aman,” ujarnya sambil menatap perawat yang sedang memeriksa mesin hemodialisis.
kisah Jaswadi menjadi gambaran nyata bagaimana Program JKN hadir memberi harapan. Bagi seorang buruh tani yang hidup sederhana, jaminan kesehatan bukan sekadar fasilitas, melainkan penopang hidup dan sumber kekuatan untuk terus bertahan, demi keluarga yang menanti di rumah.(*)

Kontributor :

Januari 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Berita Terbaru

  • All Posts
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Budaya
  • Hukum
  • Info
  • Kecelakaan
  • Kriminal
  • Lain-Lain
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial