Pati, Kota; Masa depan pendidikan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pati yang diduga dirundung masih belum pasti. Sekolah menjanjikan pendampingan belajar di rumah, sedangkan sang anak menolak kembali ke sekolah tersebut.
Ibu korban, Jeane Pusspita Dewi, mengaku belum mengetahui apakah anaknya akan kembali ke sekolah itu atau pindah ke sekolah lain. Ia menyebut anaknya tidak mau lagi bersekolah di sana karena masih menyimpan trauma.
“Kemungkinan kembali ke sekolah itu, saya kurang tahu, karena anaknya sendiri tidak mau. Dia masih punya trauma, dan soal pindah ke sekolah lain, saya belum tahu juga,” ujar Jeane Pusspita Dewi, saat pihak sekolah berkunjung ke rumahnya, Minggu, 11 Oktober 2026.
Jeane menyebut pihak sekolah menunjukkan tanggung jawab dan bersedia mengantar materi pelajaran yang tertinggal langsung ke rumah mereka. Ia menambahkan bahwa anaknya masih takut bertemu banyak orang, sementara dokter meminta pemulihannya berjalan pelan-pelan.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Pati, Wulan Fitriyani, menyampaikan bahwa dokter telah menyatakan siswa tersebut sehat secara fisik maupun mental. Ia menegaskan sekolah hanya ingin memberikan hak pendidikan kepada siswa, meskipun siswa itu belum bisa kembali bersekolah.
“Kami ingin menyampaikan kepada keluarga bahwa kami hanya ingin memberikan hak Ananda. Tim sekolah akan rutin datang ke rumah sampai Ananda siap kembali, dan kami tetap melakukan evaluasi internal,” kata Wulan Fitriyani.
Wulan menyatakan tim sekolah terdiri atas wali asuh, wali asrama, dan para guru yang akan mendatangi rumah korban secara rutin. Tim itu akan terus datang sampai korban siap kembali belajar, setelah mendapat izin dari pihak keluarga.
Wulan menyebut sekolah juga akan mendampingi kontrol kesehatan korban melalui wali asuh, karena masih ada beberapa jadwal kontrol yang harus dijalani. Ia menegaskan pendampingan itu bertujuan memastikan kondisi korban tetap terpantau selama masa pemulihan berlangsung.
Penuturan ibu korban dan pihak sekolah menunjukkan dua hal berbeda, yakni janji pendampingan di satu sisi dan penolakan anak kembali bersekolah di sisi lain. Keputusan soal kelanjutan sekolah korban kini bergantung pada kesiapan anak dan kesepakatan keluarga.
Wulan Fitriyani juga menyatakan sekolah tetap melakukan evaluasi internal dan menjaga kenyamanan siswa lain di lingkungan sekolah. Sekolah belum menyampaikan hasil evaluasi tersebut kepada publik, sehingga keluarga dan masyarakat masih menunggu penjelasan lebih lanjut.
Pihak sekolah dan keluarga kini harus segera menyepakati jalan terbaik agar pendidikan korban tidak terputus.(*)

12 Oktober 2026
Pati, Juwana; Obat nyamuk bakar diduga menjadi sumber api yang menewaskan balita berusia dua tahun empat bulan di Desa Growong…

