pasfmpati.com, Kota; Warga Desa Winong dari berbagai latar belakang agama secara bersama-sama menghadiri Sarasehan Paseduluran di balai desa. Acara yang digagas Jemaat GKMI Winong dan Masjid Al Muqorrobin ini menjadi bukti hidup praktik toleransi yang mengakar kuat di masyarakat.
Komitmen menjaga kerukunan tersebut secara nyata terwujud dalam arsitektur unik bangunan rumah ibadah di lokasi itu. Gereja GKMI dan Masjid Al Muqorrobin yang saling berhadapan justru disatukan oleh sebuah kanopi besar sebagai simbol persatuan.
Tokoh Agama Islam setempat, Rahmanudin, dengan tegas menyatakan bahwa kanopi itu adalah ikon fisik dari persaudaraan sejati. “Kanopi penyatu ini merupakan janji bersama kami untuk selalu menjaga hubungan baik antarumat beragama di sini,” ungkapnya.
Pendeta GKMI Winong Didik Hartono sepakat bahwa toleransi harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. “Hubungan kami dengan saudara-saudara Muslim dibangun dari saling menghormati dan memahami sejak puluhan tahun lalu,” tambahnya.
Sebagai bentuk empati mendalam terhadap sesama, jemaat GKMI tahun ini secara sukarela memutuskan untuk tidak menggelar perayaan Natal besar-besaran. Keputusan tersebut diambil sebagai solidaritas kepada para korban bencana banjir bandang yang terjadi di berbagai daerah.
Sarasehan Paseduluran secara cerdas hadir menggantikan kegiatan Natal untuk terus merawat semangat kebersamaan. Praktik hidup rukun seperti ini secara nyata menjadi fondasi paling kokoh untuk membangun perdamaian abadi di tengah perbedaan.(*)

Polsek Sukolilo berhasil menggagalkan rencana aksi tawuran antar kelompok pemuda Desa Wegil dan Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kab Pati. Petugas…


