Tradisi Lamporan Soneyan Hidupkan Warisan Leluhur

Pati, Margoyoso; Tradisi Lamporan kembali menggema di Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, melalui kegiatan Wiwitan dan Gelar Budaya yang digelar Jumat malam. Kegiatan yang diinisiasi Komunitas Plat K tersebut menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus penguatan identitas masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Bagi masyarakat Soneyan, Lamporan bukan sekadar pertunjukan seni yang menghadirkan hiburan bagi warga desa. Tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang lahir dari kearifan lokal masyarakat agraris dalam menghadapi berbagai ancaman kehidupan pada masa lampau.
Lamporan berasal dari kata lampor yang merujuk pada media penerangan tradisional berbahan daun kelapa kering atau blarak. Berbeda dengan obor yang menggunakan bambu dan minyak tanah, lampor dirangkai dari blarak yang diikat memanjang kemudian dibakar pada bagian ujungnya.
Dalam prosesi tersebut, lampor dibawa kelompok Dayakan yang mengenakan kostum berbahan janur menyerupai rumbai-rumbai tradisional. Mereka berjalan mengelilingi kampung sambil menari mengikuti irama musik tongtek yang dimainkan warga secara bergotong royong.
Alunan kentongan, jidor, dan icik-icik mengiringi perjalanan Dayakan yang dipimpin sesepuh desa sebagai pemangku prosesi. Atraksi tersebut menghadirkan suasana sakral sekaligus memperlihatkan kuatnya hubungan antara budaya, sejarah, dan kehidupan masyarakat pedesaan.
Tradisi Lamporan selama ini dipercaya sebagai simbol penolak pagebluk atau bencana yang pernah mengancam masyarakat pada masa lalu. Nilai tersebut tidak lagi dimaknai secara ritual semata, melainkan sebagai pengingat pentingnya kebersamaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, mengapresiasi komitmen masyarakat Desa Soneyan yang terus menjaga warisan budaya daerah secara konsisten. “Lamporan bukan sekadar pertunjukan budaya. Ini adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dikenalkan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Menurut Chandra, pelestarian budaya memiliki peran strategis dalam menjaga identitas daerah di tengah derasnya arus modernisasi. Ia menegaskan pembangunan fisik harus berjalan seimbang dengan pembangunan karakter masyarakat melalui penguatan nilai-nilai budaya lokal.
“Jalan harus baik agar aktivitas masyarakat lancar. Kesehatan dan pendidikan juga harus mudah diakses. Namun budaya tidak boleh ditinggalkan karena menjadi jati diri daerah kita,” tegasnya. Pemerintah Kabupaten Pati juga membuka ruang lebih luas bagi komunitas seni untuk mengembangkan kreativitas budaya daerah.
Muhlisin, warga Desa Soneyan, menilai Lamporan menjadi sarana penting memperkenalkan sejarah desa kepada generasi muda. “Kegiatan ini membuat anak-anak mengenal budaya leluhur dan memahami nilai kebersamaan yang diwariskan para pendahulu,” katanya.
Ia menyebut keterlibatan anak-anak dan remaja dalam prosesi budaya menjadi modal penting menjaga keberlanjutan tradisi. Kehadiran generasi muda dalam setiap pelaksanaan Lamporan menunjukkan budaya lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi.
Selain menjadi agenda budaya tahunan, Lamporan juga memberi dampak sosial bagi masyarakat setempat. Kegiatan tersebut mempertemukan warga lintas usia dalam suasana gotong royong yang memperkuat hubungan sosial di lingkungan desa.
Tradisi Lamporan Soneyan membuktikan bahwa warisan budaya tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran karakter bagi generasi masa depan. Melalui pelestarian budaya yang berkelanjutan, masyarakat menjaga identitas daerah sekaligus merawat nilai kebersamaan yang menjadi kekuatan utama kehidupan desa.(*)

Kontributor :

Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Berita Terbaru

  • All Posts
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Budaya
  • Hukum
  • Info
  • Kecelakaan
  • Kriminal
  • Lain-Lain
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial