Pati, Kota; Harga beras di Pasar Sleko Pati masih mengalami fluktuasi meskipun ketersediaan stok secara umum terpantau aman. Pedagang beras Sudharti menyebut pasokan, biaya produksi, dan dukungan pemerintah kepada petani menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas harga beras.
Harga beras di Pasar Sleko Pati mengalami fluktuasi dalam beberapa bulan terakhir mengikuti kondisi pasokan daerah. Pedagang terus memantau perkembangan stok karena ketersediaan beras sangat memengaruhi perubahan harga di pasaran.
Sud arti, penjual beras di Pasar Sleko Pati, mengatakan harga beras mengalami kenaikan dan penurunan bertahap. Menurutnya, perubahan harga terjadi dalam kisaran kecil sehingga tidak terlalu membebani konsumen sehari-hari. “Harga beras sekarang naik turun, naik turun, ada kenaikan lima ratus, turun lagi lima ratus,” ujar Sudarti. Ia menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi hasil panen petani serta distribusi gabah dari berbagai wilayah.
Selain hasil panen, biaya produksi pertanian turut memengaruhi harga beras yang diterima pedagang dari pemasok. Harga pupuk, obat pertanian, serta serangan hama menjadi faktor penting dalam menentukan biaya produksi.“Kalau tidak ada hama sekali tanam ya lumayan saja,” kata Sudarti saat menjelaskan kondisi petani setempat, Kamis, 23 Juni 2026. Ia menilai serangan wereng dan tikus sering menyebabkan hasil panen menurun sehingga keuntungan petani berkurang.
Sudarti menyebut beras dengan harga menengah menjadi pilihan utama masyarakat karena sesuai kebutuhan sehari-hari keluarga. “Beras yang sedang-sedang itu, yang harga empat belas ribuan itu,” ungkap Sudharti mengenai produk terlaris.
Sudarti berharap pemerintah memberikan dukungan lebih besar kepada petani melalui subsidi dan kemudahan sarana produksi. “Subsidi saja kalau petaninya, nanti otomatis harga pasti stabil,” tuturnya terkait upaya menjaga kestabilan harga beras.
Selain faktor produksi dan pasokan, pedagang juga menyoroti rencana pembentukan Koperasi Merah Putih yang sedang digagas pemerintah. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi memengaruhi persaingan usaha pedagang beras skala kecil di tingkat daerah.
Tino, pedagang beras di Pasar Sleko Pati, mengaku khawatir apabila koperasi tersebut menjual beras dengan harga serupa pedagang tradisional. Menurutnya, kondisi itu dapat mengurangi pendapatan pedagang kecil yang selama ini bergantung pada penjualan beras harian.
“Pemerintah rencana kan mau bikin koperasi merah putih. Nah itu juga berpengaruh bagi pedagang kecil kaya kita-kita. Nah soalnya. Satu, kita pasokan harga beras disini ikut pemerintah. Tapi pemerintah masuk kan ke koperasi merah putih harganya kaya kita. Terus kita makan apa coba. Kalo koperasi merah putiuh buka.” Ujar tino
Meski demikian, Tino menyatakan tidak menolak keberadaan Koperasi Merah Putih apabila pemerintah tetap memberikan ruang usaha bagi pedagang. Ia menilai kolaborasi antara program pemerintah dan pelaku UMKM dapat menciptakan keseimbangan ekonomi yang lebih baik.
“Ya mungkin nanti koperasi merah putih dibuka nggak papa.tapi ya kita programnya lah mungkin di daur ulang. Bagaimana caranya umkm kaya kita bisa berjalan tp program pemeribtah juga berjalan,” ujar Tino.(Tim Liputan UIN Sunan Kudus Melaporkan)

Pati, Kota; Pembangunan talut penahan tanah untuk mendukung pelebaran jalan di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati, terus berlangsung. Proyek…

