Dinas Kesehatan Kabupaten Pati meningkatkan kewaspadaan terhadap leptospirosis setelah muncul kasus paparan pada sejumlah warga. Penyakit tersebut berpotensi menyebabkan kematian apabila penderita terlambat mendapatkan penanganan medis secara tepat.
Pengelola Program Zoonosis Leptospirosis, Rabies dan PP Malaria & HIV Dinkes Pati Agus Irawan menjelaskan leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira patogen. Bakteri tersebut menular dari hewan kepada manusia melalui luka terbuka maupun selaput lendir tubuh.
Agus menyebut tikus menjadi sumber penularan utama meskipun beberapa hewan lain juga berpotensi menularkan penyakit. Penularan sering terjadi melalui genangan air, lumpur, selokan, serta lingkungan yang tercemar kencing hewan.
“Leptospirosis dapat menyebabkan gangguan ginjal, perdarahan, hingga kematian apabila tidak segera ditangani,” ujarnya, Jumat, 26 Juni 2026. Ia menjelaskan gejala penyakit tersebut meliputi demam, sakit kepala, nyeri betis, mual, muntah, serta mata kemerahan.
Menurut Agus, petani, peternak, nelayan, petugas kebersihan, dan warga yang membersihkan selokan menghadapi risiko lebih besar. Dinkes Pati telah mengirimkan surat kewaspadaan kepada puskesmas, rumah sakit, serta fasilitas kesehatan lainnya.
“Gejala leptospirosis mirip demam berdarah, tifoid, malaria, sehingga memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosis,” katanya. Masyarakat perlu menggunakan alat pelindung diri dan menerapkan perilaku hidup bersih guna mencegah penularan.(*)

Pati, Kota; Pembangunan talut penahan tanah untuk mendukung pelebaran jalan di Dukuh Guyangan, Desa Purworejo, Kecamatan Pati, terus berlangsung. Proyek…

