Pati, Kota; Sekolah Lapang Cuaca Nelayan menjadi program edukasi strategis yang membekali nelayan kemampuan membaca kondisi cuaca sebelum berangkat melaut. Program ini telah berjalan sejak tahun 2017 dan konsisten digelar secara berkala di berbagai wilayah pesisir Jawa Tengah.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Tanjung Emas Semarang, Taruna Mona Rachman, menjelaskan bahwa program ini menyasar nelayan dan pelayar agar memahami informasi cuaca maritim secara menyeluruh. “Kegiatan SLCN ini adalah pembelajaran bagi nelayan dan pelayar terkait informasi cuaca maritim di laut. Materi yang diberikan mencakup tinggi gelombang, arah arus, dan berbagai parameter cuaca penting lainnya.”
Pemahaman cuaca sebelum melaut disebut menjadi faktor penentu utama dalam mencegah kecelakaan yang kerap terjadi di perairan. Taruna menegaskan keputusan menunda keberangkatan harus diambil ketika kondisi cuaca dinilai tidak mendukung aktivitas melaut. “Nelayan harus mengetahui informasi cuaca sebelum melaut demi keselamatan bersama di tengah laut. Apabila cuacanya kurang baik, keberangkatan sebaiknya ditunda untuk mengurangi angka kecelakaan di laut.”
Secara nasional, program SLCN tercatat telah menjangkau ribuan peserta sejak pertama kali diperkenalkan kepada masyarakat nelayan. Taruna menyebutkan capaian peserta program ini terus bertambah dari tahun ke tahun di berbagai daerah pesisir. “Program ini sudah diikuti sebanyak 1.145 orang peserta sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2017. Khusus wilayah Pati, pelatihan serupa sudah digelar sebanyak enam kali hingga saat ini.”
Pemerintah daerah turut mendorong pemanfaatan teknologi informasi cuaca sebagai bagian dari peningkatan keselamatan kerja nelayan setempat. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, Hadi Santoso, menyatakan teknologi cuaca kini menjadi kebutuhan mendesak bagi pelaku usaha perikanan. “Nelayan perlu memanfaatkan teknologi untuk mengetahui cuaca dan belajar menentukan waktu serta lokasi melaut yang tepat. Hal ini sangat penting demi kepentingan keselamatan kerja mereka di tengah laut.”
Mayoritas peserta pelatihan berasal dari wilayah Kecamatan Juwana yang dikenal sebagai basis nelayan kapal besar dan kecil. Hadi menambahkan peserta pelatihan terdiri dari kombinasi nelayan kapal besar maupun nelayan dengan kapal berskala kecil. “Sebagian besar peserta pelatihan ini berasal dari kecamatan Juwana yang merupakan sentra perikanan Kabupaten Pati. Pesertanya mencakup nelayan kapal besar maupun nelayan dengan kapal berskala kecil di wilayah tersebut.”
Bagi pelaku usaha perikanan, laporan cuaca resmi dari BMKG juga memiliki fungsi legal yang melindungi nelayan dari sanksi administratif di laut. Pengurus Asosiasi Mitra Nelayan Sejahtera Juwana, Heri Trimulyo, mengungkapkan laporan BMKG dapat menjadi bukti otentik saat kapal terpaksa menyimpang jalur pelayaran. “Laporan resmi BMKG soal cuaca buruk bisa membebaskan nelayan dari denda administrasi sesuai aturan berlaku. Kapal besar yang seharusnya melintasi jalur tiga bisa terhindar dari sanksi jika ada bukti cuaca.”
Asosiasi nelayan menyatakan komitmen menjadi penyalur informasi cuaca resmi kepada seluruh anggota yang tergabung dalam organisasi tersebut. Heri menjelaskan pihaknya akan terus bersinergi dengan BMKG khususnya menjelang musim timur yang rawan gelombang tinggi. “Kami akan berperan sebagai agen penyalur informasi cuaca kepada sekitar tiga ratus kapal anggota asosiasi. Kami akan terus bersinergi dengan BMKG terutama pada musim timur yang rawan gelombang tinggi.”
Kolaborasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan asosiasi nelayan diharapkan terus berlanjut demi menekan angka kecelakaan di laut secara berkelanjutan.(*)

3 Agustus 2026
Pati, Kota; Sekolah Lapang Cuaca Nelayan menjadi program edukasi strategis yang membekali nelayan kemampuan membaca kondisi cuaca sebelum berangkat melaut.…

