Lomba Bertutur SD MI Pati Cetak Generasi Literat

Pati, Kota; Lomba Bertutur tingkat SD/MI Kabupaten Pati menjadi wadah penguatan budaya literasi sekaligus keterampilan komunikasi anak sejak dini. Kegiatan tersebut mempertemukan puluhan peserta terbaik hasil seleksi dari berbagai sekolah dasar dan madrasah.
Pemerintah Kabupaten Pati bersama Perpustakaan Nasional menggelar kegiatan tersebut untuk menjaring potensi generasi muda daerah. Panitia mendorong peserta mengembangkan kemampuan membaca, memahami, serta menyampaikan informasi secara menarik kepada khalayak.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pati, Sukardi, mengatakan lomba bertutur tidak sekadar mencari peserta terbaik. Kegiatan tersebut juga bertujuan membangun daya pikir kritis dan kemampuan presentasi anak melalui literasi.
“Kegiatan ini diselenggarakan kolaborasi Perpusnas dan Pemkab Pati untuk menjaring anak-anak yang memiliki kemampuan bertutur,” katanya. Menurutnya, peserta harus mampu membaca, memahami, menghayati, kemudian menyampaikan kembali isi bacaan dengan baik.
Panitia memberikan keleluasaan kepada peserta memilih tema sesuai karakteristik daerah masing-masing untuk dipresentasikan. Peserta dapat mengangkat cerita sejarah, kepahlawanan, maupun pengetahuan lokal yang memiliki nilai edukatif tinggi.
Sukardi menjelaskan seluruh materi bertutur harus dipadukan dengan sumber literasi yang tersedia di perpustakaan daerah. Pendekatan tersebut bertujuan meningkatkan minat baca sekaligus memperluas wawasan peserta sejak usia sekolah dasar.
“Kami berharap kemampuan membaca, memahami, menghayati, dan menyampaikan kembali informasi dapat tumbuh melalui lomba ini,” ujarnya. Ia menilai kemampuan bertutur menjadi bekal penting menghadapi perkembangan pendidikan dan tantangan masa depan.
Salah satu finalis berasal dari MI Tarbiyatul Islamiyah Winong melalui siswi bernama Kamila Rahmania. Sekolah tersebut melakukan persiapan matang agar peserta mampu tampil maksimal pada babak grand final.
Guru pembimbing Ayu dan Sholihati mengatakan proses latihan berlangsung intensif selama hampir satu bulan penuh. Mereka mengawali persiapan dengan pendaftaran daring sebelum mengikuti tahapan seleksi yang ditentukan panitia.
“Kami mempersiapkan selama hampir satu bulan, kemudian meningkatkan latihan setelah lolos seleksi menuju final,” katanya. Mereka memilih kisah masa lampau Kadipaten Parang Garuda sebagai materi bertutur karena sarat nilai sejarah.
Lomba bertutur diharapkan mampu melahirkan generasi literat yang percaya diri menyampaikan gagasan secara terbuka. Kegiatan tersebut juga memperkuat pelestarian sejarah daerah melalui kreativitas anak dalam menyampaikan cerita.(*)

Kontributor :

Juni 2026
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Berita Terbaru

  • All Posts
  • Bencana Alam
  • Berita
  • Budaya
  • Hukum
  • Info
  • Kecelakaan
  • Kriminal
  • Lain-Lain
  • Pendidikan
  • Politik
  • Sosial